WHO Simpan Daftar Ngeri Wabah: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis daftar baru patogen yang berisiko memicu pandemi atau wabah. Lembaga itu juga menyebutkan terdapat Penyakit X, patogen misterius yang bisa menyebabkan epidemi global yang serius. Menargetkan patogen prioritas dan keluarga virus untuk penelitian dan pengembangan penanggulangan sangat penting untuk respon epidemi dan pandemi yang cepat serta efektif,” kata Direktur Kedaruratan WHO.

WHO Simpan Daftar Ngeri Wabah ‘Penerus’ Covid

Tanpa investasi R&D signifikan sebelum pandemi Covid-19, vaksin aman dan efektif tidak akan mungkin dikembangkan dalam waktu singkat. Menurut WHO, daftar itu diperbarui untuk digunakan memandu penelitian dan pengembangan (R&D) global dan investasi. Khususnya terkait vaksin, tes, serta perawatan.

Daftar tersebut telah di buat sejak 2017 lalu. Daftar terbaru yang di umumkan di perkirakan akan terbit sebelum April 2023 mendatang. Termasuk dalam daftar adalah Covid-19, virus Ebola, Marburg, demam Lassa, MERS, SARS, Nipah, Zika, dan Penyakit X. Peneliti juga melabeli patogen yang menjadi prioritas, yang akan menentukan kesenjangan pengetahuan serta prioritas penelitian. Berikutnya akan di susun spsifikasi untuk vaksin, perawatan, tes diagnostik.

Sementara itu, WHO juga bersiap melakukan di skusi lanjutan terkait perjanjian pandemi. Badan antar pemerintah tengah membuka jalan untuk menyepakati aturan bagaimana sebuah negara mempersiapkan dan menanggapi ancaman pandemi di masa depan.

Pertemuan ketiga akan di lakukan di Jenewa pada 5 hingga 7 Desember mendatang. Saat itu, di skusi akan terkait menyusun dan merundingkan konvensi WHO atau jenis perjanjian internasional lain mengenai kesiapan dan tanggapan terkait pandemi. Laporan hasil pertemuan akan di rilis pada negara anggota WHO tahun depan. Hasil akhir diharapkan pada tahun 2024 mendatang.

Beijing Mulai Tutup Tempat Umum

Saat ini Beijing mengharuskan orang-orang yang datangan dari wilayah lain untuk menjalani pengujian Covid selama tiga hari sebelum mereka di izinkan meninggalkan akomodasi mereka. Beijing sebelumnya juga telah menutup bisnis dan sekolah di di strik yang terkena dampak paling parah dan memperketat aturan untuk memasuki kota karena kasus infeksi meningkat lebih tinggi di Beijing dan secara nasional.

Beberapa wilayah di China saat ini sedang memerangi banyak gejolak Covid-19. Mulai dari Zhengzhou di provinsi Henan tengah hingga Chongqing di barat daya melaporkan 26.824 kasus lokal baru per Minggu, mendekati puncak infeksi harian negara.

Tak hanya kasus infeksi, China juga juga kembali mencatat dua kematian di Beijing, naik dari satu pada akhir pekan lalu. Ini merupakan kasus kematian yang pertama di China sejak akhir Mei atau hampir 6 bulan lalu. Guangzhou, kota selatan berpenduduk hampir 19 juta orang yang sedang berjuang melawan wabah terbesar di China baru-baru ini, memerintahkan penutupan selama lima hari untuk Baiyun, di strik terpadatnya. Ini menangguhkan layanan makan malam dan menutup klub malam dan teater di kawasan bisnis utama kota.

Sementara itu, kebijakan nol-Covid secara umum tetap di jalankan. Strategi tersebut masih menghambat pertumbuhan ekonomi, mengisolasi Beijing di panggung internasional, dan bahkan memicu protes yang jarang terjadi di negara di mana perbedaan pendapat secara rutin ditumpas.

Awal bulan ini, pemerintah mengeluarkan 20 aturan untuk mengoptimalkan nol-Covid, mengurangi waktu karantina untuk kedatangan di luar negeri dan menyederhanakan sistem untuk menilai risiko penularan. China mencatat sekitar 27.000 kasus domestik baru pada Senin, menurut Komisi Kesehatan Nasional. Negeri Tirai Bambu kini mencatat total 290.787 kasus infeksi dan 5.231 kematian.